Rabu, 25 April 2012
Noun Clauses
1. (Should we wait for him ?) I
wonder if we should
wait for him.
2.(Did She borrow your dictionary
?) I want to know
whether she borrowed your dictionary or not.
3.(Does she need any help ?) I
wonder if she need
any help.
4.(Is he having trouble ?) The
fact that she’s
having trouble is not surprising me.
5.(Does it belong to Jake ?) I
want to know whether
it belongs to Jake or not.
6.(Is there life on other planets
?) I want to know
if there’s a life on other planets.
7.(Will people live on the moon
someday ?) I wonder
if people will live on the moon someday.
8.(Is this information correct ?)
Could you tell me
if this information is correct or not ?
9.That dictionary is good. I
wonder if that
dictionary is good or not.
Kamis, 12 April 2012
Orang Tua yang Kesepian
Suatu
hari seseorang pergi ke rumah orang jompo atau lebih terkenal dengan sebutan
panti werdha bersama dengan teman-temannya. Kebiasaan ini mereka lakukan untuk
lebih banyak mengenal bahwa akan lebih membahagiakan kalau kita bisa berbagi
pada orang-orang yang kesepian dalam hidupnya.
Ketika dia sedang berbicara dengan
beberapa ibu-ibu tua, tiba-tiba matanya tertumpu pada seorang kakek tua yang
duduk menyendiri sambil menatap ke depan dengan tatapan kosong. Lalu dia
mencoba mendekati kakek itu dan mencoba mengajaknya berbicara. Perlahan tapi
pasti, sang kakek akhirnya mau mengobrol dengannya sampai akhirnya si kakek
menceritakan kisah hidupnya. Si kakek mulai cerita tentang hidupnya sambil
menghela napas panjang.
Sejak masa muda saya menghabiskan
waktu saya terus mencari usaha yang baik untuk keluarga saya, khususnya untuk
anak-anak yang sangat saya cintai. Sampai akhirnya saya mencapai puncaknya
dimana kami bisa tinggal di rumah yang sangat besar dengan segala fasilitas yang
sangat bagus. Demikian juga dengan anak-anak saya, mereka semua berhasil
sekolah sampai keluar negeri dengan biaya yang tidak pernah saya batasi.
Akhirnya mereka semua berhasil dalam sekolah juga dalam usahanya dan juga dalam
berkeluarga.
Tibalah di mana kami sebagai orang
tua merasa sudah saatnya pensiun dan menuai hasil panen kami. Tiba-tiba istri
tercinta saya yang selalu setia menemani saya dari sejak saya memulai kehidupan
ini meninggal dunia karena sakit yang sangat mendadak. Lalu sejak kematian
istri saya tinggallah saya hanya dengan para pembantu kami karena anak-anak
kami semua tidak ada yang mau menemani saya karena mereka sudah mempunyai rumah
yang juga besar.
Hidup saya rasanya hilang tiada lagi
orang yang mau menemani saya setiap saya memerlukannya. Tidak sebulan sekali
anak-anak mau menjenguk saya atau pun memberi kabar melalui telepon. Lalu
tiba-tiba anak sulung saya datang dan mengatakan kalau dia akan menjual rumah
karena selain tidak efisien juga toh saya dapat ikut tinggal dengannya. Dengan
hati yang berbunga saya menyetujuinya karena toh saya juga tidak memerlukan
rumah besar lagi tapi tanpa ada orang-orang yang saya kasihi di dalamnya.
Setelah itu saya ikut dengan anak
saya yang sulung. Tapi apa yang saya dapatkan? Setiap hari mereka sibuk
sendiri-sendiri dan kalaupun mereka ada di rumah tak pernah sekalipun mereka
mau menyapa saya. Semua keperluan saya pembantu yang memberi. Untunglah saya
selalu hidup teratur dari muda maka sekalipun sudah tua saya tidak pernah
sakit-sakitan. Lalu saya tinggal di rumah anak saya yang lain. Saya berharap
kalau saya akan mendapatkan sukacita di dalamnya, tetapi rupanya tidak. Yang
lebih menyakitkan semua alat-alat untuk saya pakai mereka ganti, mereka
menyediakan semua peralatan dari kayu dengan alas an untuk keselamatan saya
tapi sebetulnya mereka sayang dan takut kalau saya memecahkan alat-alat mereka
yang mahal-mahal itu.
Setiap hari saya makan dan minum dari
alat-alat kayu atau plastik yang sama dengan yang mereka sediakan untuk para
pembantu dan anjing mereka. Setiap hari saya makan dan minum sambil
mengucurkan air mata dan bertanya di manakah hati nurani mereka?
Akhirnya saya tinggal dengan anak
saya yang terkecil, anak saya dulu sangat saya kasihi melebihi yang lain karena
dia dulu adalah seorang anak yang sangat memberikan sukacita pada kami semua.
Tapi apa yang saya dapatkan? Setelah beberapa lama saya tinggal di sana
akhirnya anak saya dan istrinya mendatangi saya lalu mengatakan bahwa mereka
akan mengirim saya untuk tinggal di panti jompo dengan alasan supaya saya punya
teman untuk berkumpul dan juga mereka berjanji akan selalu mengunjungi saya.
Sekarang sudah 2 tahun saya disini
tapi tidak sekali pun dari mereka yang datang untuk mengunjungi saya apalagi
membawakan makanan kesukaan saya. Hilanglah semua harapan saya tentang
anak-anak yang saya besarkan dengan segala kasih sayang dan kucuran keringat.
Saya bertanya-tanya mengapa kehidupan hari tua saya demikian menyedihkan
padahal saya bukanlah orang tua yang menyusahkan, semua harta saya mereka
ambil.
Saya hanya minta sedikit perhatian
dari mereka tapi mereka sibuk dengan diri sendiri. Kadang saya menyesali diri
mengapa saya bisa mendapatkan anak-anak yang demikian buruk. Masih untung di
sini saya punya teman-teman dan juga kunjungan dari sahabat-sahabat yang
mengasihi saya tapi tetap saya merindukan anak-anak saya.
Mendidik anak agar menjadi anak yang
berbakti kepada kedua orang tua adalah kebaikan atau harta yang tidak ada
habisnya.
Berfikir Sederhana
Terpetik sebuah kisah seorang pemburu berangkat ke
hutan dengan membawa busur dan tombak.
Dalam hatinya dia berkhayal mau membawa hasil buruan yang paling besar yaitu
seekor rusa. Cara berburunya pun tidak pakai anjing pelacak atau jaring
penjerat, tetapi menunggu di balik sebatang pohon yang memang sering dilalui
oleh binatang-binatang buruan.
Tidak lama ia menunggu, seekor kelelawar besar
kesiangan terbang hinggap di atas pohon kecil tepat di depan si pemburu. Dengan
ayunan parang atau pukulan gagang tombaknya kelelawar itu pasti bisa di
perolehnya. Tetapi si pemburu berfikir, “untuk apa merepotkan diri dengan
seekor kelelawar? Apakah artinya dia dibandingkan dengan seekor rusa besar yang
saya incar?”
Tidak lama berselang seekor kancil lewat. Kancil itu
sempat berhenti di depannya bahkan menjilat-jilat ujung tombaknya tetapi ia
berfikir, “ah, hanya seekor kancil nanti malah tidak ada yang makan, sia-sia.”
Agak lama si pemburu menunggu. Tiba-tiba terdengar langkah-langkah kaki binatag
mendekat. Si pemburu pun mulai siaga penuh, tetpi ternyata seekor kijang. Ia
pun membiarkannya berlalu. Lama sudah ia menunggu tetapi tidak ada rusa yang
lewat sehingga ia tertidur.
Baru setelah hari sudah sore rusa yang di tunggu
lewat. Rusa itu sempat berhenti di depan pemburu tetapi ia sedang tertidur.
Ketika rusa itu hampir menginjaknya ia kaget. Spontan ia berteriak, “rusa!!!”
sehingga rusanya pun kaget dan lari terbirit-birit sebelum si pemburu menombaknya.
Alhasil ia pulang tanpa membawa apa-apa.
Banyak orang yang mempunyai idealisme
terlalu besar untuk memperoleh sesuatu yang diinginkannya. Ia berfikir yang
tinggi-tinggi dan bicaranya pun terkadang sulit di pahami. Tawaran dan
kesempatan-kesempatan kecil dilewati begitu saja tanpa pernah berfikir bahwa
mungkin di dalamnya ia memperoleh sesuatu yang berharga. Tidak jarang
orang-orang seperti itu menelan pil pahit karena akhirnya tidak mendapatkan
apa-apa.
Jumat, 06 April 2012
Scatter Kindness Every Day
Jenita Merlin
1EA12
13211805
There is a young man ahead of 30 years. His mother lovingly nurture and educate the son in order to later be able to live independently, especially as he felt her son had a very minimal capacity.
1EA12
13211805
There is a young man ahead of 30 years. His mother lovingly nurture and educate the son in order to later be able to live independently, especially as he felt her son had a very minimal capacity.
The son very loves his mother. One day he said " I'm very happy look mother laugh. Mother's face so beautiful. How can i make mom laugh every day? ". He said that he was happy looked his mother laugh. His mother's face so beautiful. How can he make his mom laugh every day.
His mother said, " My son do kindness every day then mother would laugh every day. "
" How can i do kindness every day mom? " asked the son.
" Doing kindness is if you work. Work with seriously. Help others especially older people who need the help, ill or lonely. " said his mother.
Kamis, 15 Maret 2012
Self Introduction
My name is Jenita merlin. I come from Bogor. I was
born on 4 June 1993. I am studying at Gunadarma
University and majored in management.I majored in management because I
want to create jobs so that unemployment is reduced and want to be successful
so that my parents proud.I've worked with a sales promotion girls on mobile
products at the time I worked a sales promotion girls,I get to experience.Sales
promotion to be my girls have to learn to be patient,diligent,friendly to
consumers,so that consumers feel comfortable when asked handhone products that
are sold.As a sales promotion girls,I interact with many people,the experience
and gain knowledge about the marketing.I hope what I want can be achieved
sometime in the future, that is to be successful.
Minggu, 25 Desember 2011
Plagiarisme dalam Hegemoni Kultur Akademi
Plagiarisme sering disebut juga dengan plagiat. Plagiarisme adalah penjiplakan
atau pengambilan karangan, pendapat, dan sebagainya dari orang lain dan
menjadikannya seolah karangan dan pendapat sendiri. Plagiat dapat dianggap sebagai tindak pidana karena mencuri hak cipta
orang lain. Di dunia pendidikan, pelaku plagiarisme dapat mendapat
hukuman berat. Pelaku
plagiat disebut sebagai plagiator.
Yang termasuk sebagai tindakan plagiarisme adalah :
Pendapat saya tentang plagiarisme dalam hegemoni kultur akademik adalah perbuatan yang tidak baik karena menjiplak hasil karya orang lain dan mengakuinya sebagai hasil karya sendiri. Sebaiknya kita tidak menjiplak hasil karya orang lain dan mencoba untuk membuat karya sendiri dengan ide-ide dari pemikiran kita sendiri.
Yang termasuk sebagai tindakan plagiarisme adalah :
- Mengakui tulisan orang lain sebagai tulisan sendiri
- Mengakui gagasan orang lain sebagai pemikiran sendiri
- Mengakui temuan orang lain sebagai kepunyaan sendiri
- Mengakui karya kelompok sebagai kepunyaan atau hasil sendiri
- Menggunakan informasi yang berupa fakta umum
- Menuliskan kembali opini orang lain dengan memberikan sumber jelas
- Mengutip secukupnya tulisan orang lain dengan memberikan tanda batas jelas bagian kutipan dan menuliskan sumbernya
Pendapat saya tentang plagiarisme dalam hegemoni kultur akademik adalah perbuatan yang tidak baik karena menjiplak hasil karya orang lain dan mengakuinya sebagai hasil karya sendiri. Sebaiknya kita tidak menjiplak hasil karya orang lain dan mencoba untuk membuat karya sendiri dengan ide-ide dari pemikiran kita sendiri.
Sabtu, 12 November 2011
Pengaruh Teknologi Terhadap Kebudayaan di Negara Indonesia
Pengaruh
teknologi informasi dan komunikasi (TIK) meliputi dua sisi yaitu pengaruh
positif dan pengaruh negatif.
Pengaruh positif yang dapat
dirasakan dengan adanya TIK adalah peningkatan kecepatan, ketepatan, akurasi
dan kemudahan yang memberikan efisiensi dalam berbagai bidang khususnya dalam
masalah waktu, tenaga dan biaya. Sebagai contoh manifestasi TIK yang mudah
dilihat di sekitar kita adalah pengiriman surat hanya memerlukan waktu singkat,
karena kehadiran surat elektronis (email), ketelitian hasil perhitungan
dapat ditingkatkan dengan adanya komputasi numeris, pengelolaan data dalam
jumlah besar juga bisa dilakukan dengan mudah yaitu dengan basis data (database),
dan masih banyak lagi.
Sedangkan
pengaruh negatif yang bisa muncul karena adanya TIK, misalnya dari globalisasi
aspek ekonomi, terbukanya pasar bebas memungkinkan produk luar negeri masuk
dengan mudahnya. Dengan banyaknya produk luar negeri dan ditambahnya harga yang
relatif lebih murah dapat mengurangi rasa kecintaan masyarakat terhadap produk
dalam negeri. Dengan hilangnya rasa cinta terhadap produk dalam negeri
menunjukan gejala berkurangnya rasa nasionalisme masyarakat kita terhadap
bangsa Indonesia.
Pada
hakikatnya teknologi diciptakan, sejak dulu hingga sekarang ditujukan untuk
membantu dan memberikan kemudahan dalam berbagai aspek kehidupan, baik pada
saat manusia bekerja, berkomunikasi, bahkan untuk mengatasi berbagai persoalan
pelik yang timbul di masyarakat. TIK tidak hanya membantu dan mempermudah
manusia tetapi juga menawarkan cara-cara baru di dalam melakukan
aktivitas-aktivitas tersebut sehingga dapat mempengaruhi budaya masyarakat yang
sudah tertanam sebelumnya.
Budaya
atau kebudayaan adalah kerangka acuan perilaku bagi masyarakat pendukungnya
yang berupa nilai-nilai (kebenaran, keindahan, keadilan, kemanusiaan,
kebijaksanaan, dll ) yang berpengaruh sebagai kerangka untuk membentuk
pandangan hidup manusia yang relatif menetap dan dapat dilihat dari pilihan
warga budaya itu untuk menentukan sikapnya terhadap berbagai gejala dan
peristiwa kehidupan.
Langganan:
Postingan (Atom)