Kamis, 26 April 2012

Mempertanyakan Janji Penciptaan Lapangan Kerja


 
Gegap gempita kasus deportasi tenaga kerja Indonesia illegal belum selesai. Kasus TKI illegal yang  berujung pada kunjungan Presiden ke Malaysia itu memang membuahkan hasil, yakni penundaan kembali pelaksanaan razia dan deportasi.
Langkah recycle TKI illegal hanya menyelamatkan mereka yang memang sudah terlempar atau tidak tertampung di pasar kerja dalam negeri dan memilih mengadu nasib di negeri tetangga. Selain  mereka, masih ada lebih dari sepuluh juta penganggur di Negara ini. Itu baru penganggur terbuka, belum termasuk mereka yang setengah menganggur.
Kunci penyelesaian semua masalah itu adalah menciptakan lapangan kerja di dalam negeri. Oleh karena itu, sudah saatnya kita mempertanyakan kembali kebijakan ekonomi dan pembangunan yang di tempuh pemerintah selama ini. Benarkah kebijakan-kebijakan tersebut dapat menciptakan lapangan kerja? Jika kita membicarakan arah kebijakan pembangunan ekonomi berarti mempersoalkan juga pilihan-pilihan sektor dan industry-industri yang menjadi prioritas dalam pembangunan ke depan.

Rabu, 25 April 2012

Noun Clauses

1. (Should we wait for him ?) I wonder if we should wait for him.

2.(Did She borrow your dictionary ?) I want to know whether she borrowed your dictionary or not.

3.(Does she need any help ?) I wonder if she need any help.

4.(Is he having trouble ?) The fact that she’s having trouble is not surprising me.

5.(Does it belong to Jake ?) I want to know whether it belongs to Jake or not.

6.(Is there life on other planets ?) I want to know if there’s a life on other planets.

7.(Will people live on the moon someday ?) I wonder if people will live on the moon someday.

8.(Is this information correct ?) Could you tell me if this information is correct or not ?

9.That dictionary is good. I wonder if that dictionary is good or not.

10.Those glasses are expenssive. I want to know if those glasses are expenssive

Kamis, 12 April 2012

Orang Tua yang Kesepian


Suatu hari seseorang pergi ke rumah orang jompo atau lebih terkenal dengan sebutan panti werdha bersama dengan teman-temannya. Kebiasaan ini mereka lakukan untuk lebih banyak mengenal bahwa akan lebih membahagiakan kalau kita bisa berbagi pada orang-orang yang kesepian dalam hidupnya.
Ketika dia sedang berbicara dengan beberapa ibu-ibu tua, tiba-tiba matanya tertumpu pada seorang kakek tua yang duduk menyendiri sambil menatap ke depan dengan tatapan kosong. Lalu dia mencoba mendekati kakek itu dan mencoba mengajaknya berbicara. Perlahan tapi pasti, sang kakek akhirnya mau mengobrol dengannya sampai akhirnya si kakek menceritakan kisah hidupnya. Si kakek mulai cerita tentang hidupnya sambil menghela napas panjang.
Sejak masa muda saya menghabiskan waktu saya terus mencari usaha yang baik untuk keluarga saya, khususnya untuk anak-anak yang sangat saya cintai. Sampai akhirnya saya mencapai puncaknya dimana kami bisa tinggal di rumah yang sangat besar dengan segala fasilitas yang sangat bagus. Demikian juga dengan anak-anak saya, mereka semua berhasil sekolah sampai keluar negeri dengan biaya yang tidak pernah saya batasi. Akhirnya mereka semua berhasil dalam sekolah juga dalam usahanya dan juga dalam berkeluarga.
Tibalah di mana kami sebagai orang tua merasa sudah saatnya pensiun dan menuai hasil panen kami. Tiba-tiba istri tercinta saya yang selalu setia menemani saya dari sejak saya memulai kehidupan ini meninggal dunia karena sakit yang sangat mendadak. Lalu sejak kematian istri saya tinggallah saya hanya dengan para pembantu kami karena anak-anak kami semua tidak ada yang mau menemani saya karena mereka sudah mempunyai rumah yang juga besar.
Hidup saya rasanya hilang tiada lagi orang yang mau menemani saya setiap saya memerlukannya. Tidak sebulan sekali anak-anak mau menjenguk saya atau pun memberi kabar melalui telepon. Lalu tiba-tiba anak sulung saya datang dan mengatakan kalau dia akan menjual rumah karena selain tidak efisien juga toh saya dapat ikut tinggal dengannya. Dengan hati yang berbunga saya menyetujuinya karena toh saya juga tidak memerlukan rumah besar lagi tapi tanpa ada orang-orang yang saya kasihi di dalamnya.
Setelah itu saya ikut dengan anak saya yang sulung. Tapi apa yang saya dapatkan? Setiap hari mereka sibuk sendiri-sendiri dan kalaupun mereka ada di rumah tak pernah sekalipun mereka mau menyapa saya. Semua keperluan saya pembantu yang memberi. Untunglah saya selalu hidup teratur dari muda maka sekalipun sudah tua saya tidak pernah sakit-sakitan. Lalu saya tinggal di rumah anak saya yang lain. Saya berharap kalau saya akan mendapatkan sukacita di dalamnya, tetapi rupanya tidak. Yang lebih menyakitkan semua alat-alat untuk saya pakai mereka ganti, mereka menyediakan semua peralatan dari kayu dengan alas an untuk keselamatan saya tapi sebetulnya mereka sayang dan takut kalau saya memecahkan alat-alat mereka yang mahal-mahal itu.
Setiap hari saya makan dan minum dari alat-alat kayu atau plastik yang sama dengan yang mereka sediakan untuk para pembantu dan anjing mereka. Setiap hari saya makan dan minum sambil mengucurkan air mata dan bertanya di manakah hati nurani mereka?
Akhirnya saya tinggal dengan anak saya yang terkecil, anak saya dulu sangat saya kasihi melebihi yang lain karena dia dulu adalah seorang anak yang sangat memberikan sukacita pada kami semua. Tapi apa yang saya dapatkan? Setelah beberapa lama saya tinggal di sana akhirnya anak saya dan istrinya mendatangi saya lalu mengatakan bahwa mereka akan mengirim saya untuk tinggal di panti jompo dengan alasan supaya saya punya teman untuk berkumpul dan juga mereka berjanji akan selalu mengunjungi saya.
Sekarang sudah 2 tahun saya disini tapi tidak sekali pun dari mereka yang datang untuk mengunjungi saya apalagi membawakan makanan kesukaan saya. Hilanglah semua harapan saya tentang anak-anak yang saya besarkan dengan segala kasih sayang dan kucuran keringat. Saya bertanya-tanya mengapa kehidupan hari tua saya demikian menyedihkan padahal saya bukanlah orang tua yang menyusahkan, semua harta saya mereka ambil.
Saya hanya minta sedikit perhatian dari mereka tapi mereka sibuk dengan diri sendiri. Kadang saya menyesali diri mengapa saya bisa mendapatkan anak-anak yang demikian buruk. Masih untung di sini saya punya teman-teman dan juga kunjungan dari sahabat-sahabat yang mengasihi saya tapi tetap saya merindukan anak-anak saya.
Mendidik anak agar menjadi anak yang berbakti kepada kedua orang tua adalah kebaikan atau harta yang tidak ada habisnya.


Berfikir Sederhana


 Terpetik sebuah kisah seorang pemburu berangkat ke hutan dengan  membawa busur dan tombak. Dalam hatinya dia berkhayal mau membawa hasil buruan yang paling besar yaitu seekor rusa. Cara berburunya pun tidak pakai anjing pelacak atau jaring penjerat, tetapi menunggu di balik sebatang pohon yang memang sering dilalui oleh binatang-binatang buruan.
Tidak lama ia menunggu, seekor kelelawar besar kesiangan terbang hinggap di atas pohon kecil tepat di depan si pemburu. Dengan ayunan parang atau pukulan gagang tombaknya kelelawar itu pasti bisa di perolehnya. Tetapi si pemburu berfikir, “untuk apa merepotkan diri dengan seekor kelelawar? Apakah artinya dia dibandingkan dengan seekor rusa besar yang saya incar?”
Tidak lama berselang seekor kancil lewat. Kancil itu sempat berhenti di depannya bahkan menjilat-jilat ujung tombaknya tetapi ia berfikir, “ah, hanya seekor kancil nanti malah tidak ada yang makan, sia-sia.” Agak lama si pemburu menunggu. Tiba-tiba terdengar langkah-langkah kaki binatag mendekat. Si pemburu pun mulai siaga penuh, tetpi ternyata seekor kijang. Ia pun membiarkannya berlalu. Lama sudah ia menunggu tetapi tidak ada rusa yang lewat sehingga ia tertidur.
Baru setelah hari sudah sore rusa yang di tunggu lewat. Rusa itu sempat berhenti di depan pemburu tetapi ia sedang tertidur. Ketika rusa itu hampir menginjaknya ia kaget. Spontan ia berteriak, “rusa!!!” sehingga rusanya pun kaget dan lari terbirit-birit sebelum si pemburu menombaknya. Alhasil ia pulang tanpa membawa apa-apa.
Banyak orang yang mempunyai idealisme terlalu besar untuk memperoleh sesuatu yang diinginkannya. Ia berfikir yang tinggi-tinggi dan bicaranya pun terkadang sulit di pahami. Tawaran dan kesempatan-kesempatan kecil dilewati begitu saja tanpa pernah berfikir bahwa mungkin di dalamnya ia memperoleh sesuatu yang berharga. Tidak jarang orang-orang seperti itu menelan pil pahit karena akhirnya tidak mendapatkan apa-apa.


Jumat, 06 April 2012

Scatter Kindness Every Day

Jenita Merlin
1EA12
13211805


There is a young man ahead of 30 years. His mother lovingly nurture and educate the son in order to later be able to live independently, especially as he felt her son had a very minimal capacity.
 The son very loves his mother. One day he said " I'm very happy look mother laugh. Mother's face so beautiful. How can i make mom laugh every day? ". He said that he was happy looked his mother laugh. His mother's face so beautiful. How can he make his mom laugh every day.
His mother said, " My son do kindness every day then mother would laugh every day. "
" How can i do kindness every day mom? " asked the son.
" Doing kindness is if you work. Work with seriously. Help others especially older people who need the help, ill or lonely. " said his mother.

Kamis, 15 Maret 2012

Self Introduction


Nama  : Jenita Merlin
Kelas  :
1EA12
Npm    :
13211805

My name is Jenita merlin. I come from Bogor. I was born on 4 June 1993. I am studying at Gunadarma  University and majored in management.I majored in management because I want to create jobs so that unemployment is reduced and want to be successful so that my parents proud.I've worked with a sales promotion girls on mobile products at the time I worked a sales promotion girls,I get to experience.Sales promotion to be my girls have to learn to be patient,diligent,friendly to consumers,so that consumers  feel  comfortable when asked handhone products that are sold.As a sales promotion girls,I interact with many people,the experience and gain knowledge about the marketing.I hope what I want can be achieved sometime in the future, that is to be successful.

Minggu, 25 Desember 2011

Plagiarisme dalam Hegemoni Kultur Akademi

Plagiarisme sering disebut juga dengan plagiat. Plagiarisme adalah penjiplakan atau pengambilan karangan, pendapat, dan sebagainya dari orang lain dan menjadikannya seolah karangan dan pendapat sendiri. Plagiat dapat dianggap sebagai tindak pidana karena mencuri hak cipta orang lain. Di dunia pendidikan, pelaku plagiarisme dapat mendapat hukuman berat. Pelaku plagiat disebut sebagai plagiator.

Yang termasuk sebagai tindakan plagiarisme adalah :
  • Mengakui tulisan orang lain sebagai tulisan sendiri
  • Mengakui gagasan orang lain sebagai pemikiran sendiri
  • Mengakui temuan orang lain sebagai kepunyaan sendiri
  • Mengakui karya kelompok sebagai kepunyaan atau hasil sendiri
Yang tidak termasuk sebagai tindakan plagiarisme adalah :
  • Menggunakan informasi yang berupa fakta umum
  • Menuliskan kembali opini orang lain dengan memberikan sumber jelas
  • Mengutip secukupnya tulisan orang lain dengan memberikan tanda batas jelas bagian kutipan dan menuliskan sumbernya
Dalam dunia akademik, masih banyak jumlah peserta didik yang melakukan penjiplakan karena kemalasan atau ingin dianggap hebat oleh dosen atau teman-temannya. Hal ini sudah menjadi “racun” dalam dunia pendidikan. Peserta didik berusaha mendapat nilai yang tinggi dengan melakukan kecurangan itu.

Pendapat saya tentang plagiarisme dalam hegemoni kultur akademik adalah perbuatan yang tidak baik karena menjiplak hasil karya orang lain dan mengakuinya sebagai hasil karya sendiri. Sebaiknya kita tidak menjiplak hasil karya orang lain dan mencoba untuk membuat karya sendiri dengan ide-ide dari pemikiran kita sendiri.